BNPB Sebut Kabut Asap di Riau Sudah Sangat Bahaya



Hashtag #IndonesiaDarurat Smoke sedang tren di media sosial Twitter.
Hingga Minggu (15/9/2019) pagi, tagar telah diamati telah dibahas lebih dari 57 ribu kali.
Berdasarkan data, kabut asap di Riau terbukti lebih berbahaya daripada kabut asap di Jakarta.
Ketika dikonfirmasi mengenai kondisi kabut asap di Provinsi Riau, Penjabat Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas Nasional Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Agus Wibowo mengatakan kondisi kebakaran hutan dan lahan, terutama di Riau, sudah parah.
Karena selain terjadi di hampir sebagian wilayah, ada juga pengiriman kabut asap dari Sumatera Selatan.
"Titik api (Riau) tidak terlalu banyak, tapi besar. Soal kabut asap, ini sangat berbahaya. Asapnya tidak berbahaya," katanya, Sabtu (14/9/2019) malam.
Agus menambahkan, kualitas udara yang buruk dengan kabut asap tebal, tambahnya memiliki dampak yang cukup banyak, terutama untuk anak-anak.
Oleh karena itu, telah ada surat edaran dari Dinas Kesehatan untuk memberhentikan sekolah untuk menghindari kegiatan di luar rumah untuk menghindari atau menghilangkan asap berbahaya.
"Kemarin kualitas udara hingga 360 lebih, itu berbahaya," jelasnya.
Kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di Riau saat ini, lanjutnya, hampir mirip dengan kejadian kebakaran hutan dan lahan pada 2013-2014.
"Riau 2013-2014 serupa, sampai sulit bernafas. Sangat berat, dari segi kesehatan sangat berbahaya, menimbulkan efek berbahaya," tambahnya.
Lebih lanjut, Agus mengatakan bahwa kebakaran hutan dan lahan di Riau hampir menyeluruh. "Pukul semuanya," jelasnya.
Jauh lebih buruk dari Jakarta
Untuk diketahui, kualitas udara di Riau dilaporkan sangat tidak sehat sejak beberapa hari terakhir.
Berdasarkan Kompas & # 39; berita pada Jumat (13/9/2019) kualitas udara di Pekanbaru, Riau hingga pukul 13.00 WIB tercatat lebih buruk dari Jakarta.
Kualitas udara di Pekanbaru, Riau tercatat sangat tidak sehat, dengan Indeks Kualitas Udara (AQI) atau indeks kualitas udara 264.
Meskipun AQI Jakarta hanya 163. Meskipun kualitas udara di Jakarta tercatat lebih rendah dari Pekanbaru, indikatornya tetap tidak sehat.
Sementara itu, Rekapitulasi Data P3E Sumatera dari KLHK dan Dinas LHK Provinsi Riau mencatat indeks polutan udara (ISPU) tertinggi di Pekanbaru 269, Dumai 170, Rohan Hilir 141, Siak 125, Bengkalis 121, dan Kampar 113 pada Kamis (9 / 14/2019) pukul 07.00-15.00 WIB.
Angka ini merupakan indikasi bahwa udara tidak sehat karena berada di kisaran 101-199.
Akibatnya, beberapa tempat di Riau, yaitu Siak, memiliki catatan angka 202 berdasarkan AQI atau indeks kualitas udara dengan status yang sangat tidak sehat.
Sementara beberapa tempat di Dumai, Batam, Pekanbaru dan Rumbai memiliki status tidak sehat dengan indeks AQI masing-masing 173, 160, 158, dan 193.
Tujuh Helikopter Dikerahkan
Saat ini, upaya untuk menangani kebakaran hutan terus berlanjut. BNPB terus memobilisasi personel untuk penanganan di beberapa provinsi.
Tujuh helikopter dikerahkan untuk pengeboman air dan patroli di wilayah Riau.
Sejak 19 Februari 2019 hingga 31 Oktober, lebih dari 124 juta liter air dituangkan ke dalam pemboman.
Sementara itu, lebih dari 159 garam digunakan untuk operasi hujan buatan atau teknologi modifikasi cuaca. Berdasarkan data BNPB, luas lahan yang terbakar akibat kebakaran hutan dan lahan di Riau adalah 49.266 hektar dengan luas lahan gambut 40.553 hektar dan mineral 8.713 hektar.
Fakta-fakta
Seperti diketahui, bencana kabut asap membuat warga di Pekanbaru berbondong-bondong mengantri untuk mendapatkan pengobatan gratis yang digelar di Satlantas Polres Pekanbaru, Jumat (13/9/2019).
Spesialis paru-paru dari Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) mengingatkan masyarakat untuk segera memeriksakan diri ke dokter sebelum kesehatannya memburuk akibat menghirup asap dari kebakaran hutan dan lahan.
Ketua Kelompok Kerja Paru-Paru dan Lingkungan Hidup dari Perhimpunan Dokter-dokter Paru-Paru Indonesia (PDPI) Dr. Feni Fitriani Sp.P (K) ketika dihubungi di Jakarta pada hari Jumat, menekankan bahwa masyarakat dapat memperhatikan kondisi tubuh yang menurun dan segera mencari perawatan. sebelum menjadi lebih buruk.
Dia menjelaskan bahwa asap dari kebakaran hutan dan lahan mengandung berbagai gas berbahaya seperti sulfur dioksida (SO), karbon monoksida (CO), Nitrogen Dioksida (NO2) dan Surface Ozon (O3).
Jika seseorang terpapar kebakaran hutan dan lahan untuk jangka waktu yang lama, terutama jika kandungan CO yang tinggi dapat menyebabkan keracunan dan membuat darah kekurangan oksigen. Ini akan menyebabkan tubuh melemah hingga pingsan.
Menurut Kasat Lantas Polda Pekanbaru AKP Emil Eka Putra, sebagian besar warga yang datang mengeluh sesak nafas dan batuk pilek.
Sementara itu, di kota Dumai, sebuah video yang beredar tentang seorang wanita mengendarai sepeda motor tiba-tiba lemas di tengah jalan yang dipenuhi kabut asap.
Sejumlah warga dan petugas kesehatan di sekitar lokasi langsung membantu wanita tersebut. Diduga wanita itu lemah karena terkena kabut. .



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *